Sabtu, 20 Juni 2026
Sedikit yang terlintas di benakku adalah, kala Ibu Yesaya membawaku dengan sedan putihnya. Kami baru saja pulang dari sebuah seminar penelitian.
Wajahnya nampak tenang, namun urat-urat ototnya mulai bermunculan di lehernya. Diriku yang ada di sampingnya—di kursi penumpang, hanya bisa menatap lurus ke jalanan. Berjaga, karena takut tiba-tiba kecelakaan.
“Minum americano lagi, Hagen?”
Sial.
“Sudah Ibu bilang berapa kali? Americano bisa membuatmu insomnia. Kalau kamu insomnia, kamu kurang tidur, lalu kamu kelelahan dan tidak bisa belajar. Kamu juga tidak bisa lanjut mengerjakan projek penelitian kita.”
“Ibu yang cuman ngasih tau aja capek, loh. Kamu yang dengerin ocehan Ibu setiap saat gini gak capek? Oh, apa kamu memang suka diomelin sama Ibu seperti ini?”
Ayah dan Bunda saja tidak memasang kamera CCTV di rumah, namun kenapa dosenku ini kemampuannya sudah mengungguli kamera CCTV di kampus? Seluruh aktivitasku selalu tertangkap oleh matanya, kecuali jika aku di rumah.
Entah mengapa, aku merasa tidak bebas jika mau berkeliaran di luar, karena tidak mungkin aktivitasku tidak diketahuinya. Mungkin dia datang sendiri untuk menguntitku, mungkin dia menyuruh orang lain. Ah, masa bodoh. Aku hanya ingin menjalani kehidupanku seperti yang kumau.
“Terakhir saya minum americano itu ketika pertama kali bertemu dengan Ibu. Setelah itu saya tidak pernah minum lagi karena menuruti apa kata Ibu.”
“Kalau sudah konsisten seperti itu, kenapa kemarin tiba-tiba kamu membeli? Hah?!”
“Saya.. banyak pikiran, Ibu.”
“Ibu, ‘kan, sudah pernah bilang. Kalau stress, cerita ke Ibu. Bukannya malah minum kopi!”
“Saya stress-nya karena Ibu!”
Satu tahun ini tidak pernah aku berani membentaknya. Bahkan berkata ‘hah’ pun saja aku tidak berani. Aku sangat menghormatinya—Ibu Yesaya, dosen yang selalu mengagung-agungkanku di mata Dekan.
Aku senang selalu diapresiasi kerja kerasku olehnya. Tidak pernah reputasiku buruk di lingkungan kampus. Namaku selalu bersih di seluruh telinga masyarakat kampus karenanya.
Namun siapa sangka, harga yang harus kubayar adalah dengan menuruti obsesinya yang selalu mengaturku lebih dari orang tuaku sendiri.
Isi kepalaku sudah tak bisa menahan semua beban ini. Di sedan putih ini adalah puncaknya. Ketika aku meneriakkan amarahku di depan wajahnya, dirinya langsung menginjak pedal gas dengan sangat kuat. Tangannya meremas setir mobil sampai kulit yang melapisi setir itu terkelupas. Ibu Yesaya sudah hilang arah.
“Bu? Ibu sadar tidak kalau ini jalan raya? Ibu sadar tidak kalau kita bisa kecelakaan dengan menjalankan mobil sekencang ini?!”
“Kamu sadar tidak kalau Ibu itu ingin menjaga kesehatanmu?!”